NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

PT Donggi Senoro Lng Melepasliarkan 17 Ekor Burung Maleo Ke Habitatnya

Aksi Korporasi Senin, 07 /08/ 2017 01:47:29 3852 Pembaca  

PT Donggi Senoro Lng (DSLNG) melepasliarkan sebanyak 17 ekor anak burung Maleo ke habitat aslinya di Suaka Margasatwa Bangkiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Minggu (6/8/2017). (Foto: Muhajir/Transsulawesi.com)
PT Donggi Senoro Lng (DSLNG) melepasliarkan sebanyak 17 ekor anak burung Maleo ke habitat aslinya di Suaka Margasatwa Bangkiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Minggu (6/8/2017). (Foto: Muhajir/Transsulawesi.com)

Transsulawesi.com, Moilong -- PT Donggi Senoro Lng (DSLNG) melepasliarkan sebanyak 17 ekor anak burung Maleo ke habitat aslinya di Suaka Margasatwa Bangkiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Minggu (6/8/2017). Pelepasliaran burung Maleo merupakan komitmen kepedulian perusahaan terhadap kelestarian burung endemik Sulawesi Tengah itu yang kini kian terancam populasinya.

“Pelestarian Maleo ini merupakan bentuk kepedulian kami dalam mendukung  program pemerintah untuk melestarikan salah satu satwa langka di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungannya, terutama kepada Pemerintah Kabupaten Banggai,  Dirjen Konservasi dan Keanekaragaman Hayati dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah,” jelas Operation Manager DSLNG Helfia M Chalis.

Pelepasliaran ini adalah kali kedua, dimana sebelumnya pada tahun 2013, DSLNG juga melepasliarkan sebanyak 13 ekor burung Maleo kehabitat aslinya.

Konservasi ex situ Maleo ini menjadi yang pertama dilakukan di Indonesia. Fasilitas konservasi ex situ yang berada di sekitar lokasi Kilang LNG Donggi Senoro dilengkapi dengan inkubator penetasan dan area pemeliharaan sementara, hingga anakan Maleo siap untuk dilepasliarkan ke habitat asli.

I Nyoman Ardika, pejabat Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPKH) Bangkiriang mengatakan kepedulian perusahaan dengan melakukan pelepasliaran burung maleo adalah upaya untuk menjaga populasi Burung Maleo. Nyoman mengucapkan terimakasih kepada perusahaan DSLNG dimana telah berupaya menjaga kelestarian burung Maleo.

"Dengan upaya-upaya ini, burung maleo yang menjadi satwa terancam punah dan dilindungi ini tidak akan samai punah bahkan akan berkembang lebih banyak lagi di masa mendatang," tuturnya.

Menurut salah satu petugas KPKH, Muhammad Irsal mengatakan bahwa populasi maleo pada area suaka Margasatwa Bangkiriang dengan luas 12.500 ha masih ada 30 sampai 40 pasang burung Maleo. Populasi Burung Maleo kian terancam punah jika tidak segera di tangani dengan serius.

Bupati Banggai Herwin Yatim dalam sambutannya pada acara “Pelepasliaran Maleo” mengapresiasi program DSLNG dalam upaya melestarikan burung maleo.

"program ini saya minta dilaksanakan dengan serius dan terukur sehingga dalam beberapa tahun ke depan bisa dirasakan manfaatnya," ujarnya.

Sesuai data International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Maleo (Macrocephalon maleo) termasuk dalam jenis satwa yang terancam punah. DSLNG memulai program konservasi Maleo pada tahun 2012 bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan dan Kehutanan serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah dan peneliti Universitas Tadulako, Palu.

Momen pelepasliaran anakan Maleo yang kedua dilakukan DSLNG melalui Suaka Margasatwa Bakiriang ini sekaligus sebagai perwujudan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Penambahan jumlah anakan Maleo yang dilepasliarkan dari tahun ke tahun membuktikan bahwa konservasi ex situ yang dilaksanakan selama ini membuahkan hasil yang cukup baik.

Komitmen pelestarian Maleo yang dilakukan DSLNG ini diperkuat dengan adanya penanaman pohon kemiri secara simbolis sebagai asupan makanan Maleo untuk bertahan hidup.

(Mhr)


 

HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan