NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Publika

Sulitnya Mempertahankan Tradisi Sajian Nasi Buyu saat Lebaran

Selasa, 27 /06/ 2017 09:58:29 3198 Pembaca  

Daun Woka atau yang dikenal Busung Sulawesi ini punya harga jual. Pasarnya sampai ke Bali. Di Pulau Dewata itu, daun ini dipakai sebagai pengganti Janur untuk aksesori berbagai upacara keagamaan, khususnya Hindu. FOTO: DG/Syam Terrajana/degorontalo.co
Daun Woka atau yang dikenal Busung Sulawesi ini punya harga jual. Pasarnya sampai ke Bali. Di Pulau Dewata itu, daun ini dipakai sebagai pengganti Janur untuk aksesori berbagai upacara keagamaan, khususnya Hindu. FOTO: DG/Syam Terrajana/degorontalo.co

Transsulawesi.com, Banggai - Tinggal belasan warga lokal batui yang bisa menyajikan panganan khas “Nasi Buyu” saat lebaran Idulfitri kali ini. Olahan ketan kukus santan yang dibungkus rapi dalam kumbonou atau daun Woka (Livistona Palm) sudah sulit dijumpai.

Kesulitan menghadirkan buyu saat lebaran bukan karena tak ada beras ketan, melainkan karena sulitnya mendapatkan tanaman kumbonou sebagai bahan pembungkus.

“Susah dapat daun (kumbonou), kalau ada, kecuali jalan jauh kehutan baru bisa dapat,” ujar Sawia (65) salah satu pembuat buyu.

Tahun tahun sebelumnya, buyu menjadi sajian khas tervaforit bagi warga sekitar, hampir tak ada kepala keluarga yang melewatkan sajian yang satu ini, apalagi dihari hari besar.

Wanita paruh abad itu mengaku, walau sudah memiliki empat orang cucu, dia cukup kuat memasak 6 liter nasi ketan untuk dibuat buyu, tapi sudah empat tahun terakhir dia tidak bisa melayani pesanan lagi.

"Banyak yang pesan tapi daunnya yang tidak ada, minggu lalu saya jalan cari, tapi macam sudah tidak ada," terangnya.

Menurut kerabat Sawia, Anto (36) sulitnya mendapatkan kombonou karena tempat tumbuhnya sudah hilang berganti hamparan perkebunan kelapa sawit.

Padahal dulunya kata Anto, daun Kumbonou (Bahasa Latin:Livistona) tumbuh subur di bagian perbukitan Banggai Sulawesi Tengah, Khususnya di Kecamatan Batui.

“Tapi sekarang jangan harap bisa ketemu, tahun lalu saja dapat daunnya karena kebetulan ikut merotan. Itupun jauh sekali,” tutur pria yang hanya tamat sekolah dasar itu.

Menurutnya tanaman yang serumpun palma yang juga anggota keluarga dari tanaman kelapa alias nyiur itu bisa diperhatikan keberadaannya oleh pihak terkait.

“Saya tidak punya sekolah, jadi saya minta pemerintah bisa ba jaga akan kelestarian tanaman yang kitorang (kami) butuhkan,” imbuh Anto.

Sekedar diketahui, diberbagai daerah lain di Sulawesi, daun Kumbunou  dikenal sangat akrab dengan dunia kuliner, di sulawesi utara misalnya, daun Kumbunou atau daun woka sering digunakan sebagai media untuk membungkus dodol kenari (minahasa), atau nasi kuning (manado) dan keberadaanya masih sangat terjaga.

(IRF/SY)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan