NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Publika

Eksistensi Cap Tikus Sejak Turun Temurun

Jum'at, 16 /06/ 2017 20:34:06 3642 Pembaca  

Ilustrasi (Tempo)
Ilustrasi (Tempo)

Transsulawesi.com, Banggai -- Pihak Kepolisian Banggai terhitung telah sering melakukan operasi untuk memberangus produksi dan peredaran minuman keras tradisonal “Cap Tikus” (CT) di Kabupaten Banggai. Namun, minuman keras ini tetap beredar.

Belum lama ini pihak polsek Bunta kembali mengamankan puluhan liter cap tikus pada bulan suci Ramadan. Minuman haram tersebut diangkut melalui mobil Avansa bernomor polisi DN 349 RU, Rabu (14/6) sekira pukul 17.15 Wita. Dari informasi cap tikus diperoleh dari warga di Desa Laonggo, Kecamatan Bunta.

Berbicara tentang memusnahkan Cap Tikus secara total itu mustahil. Karena mengingat, CT merupakan sumber perekonomian petani aren secara turun temurun.

Cap tikus sendiri merupakan sebutan populer di Minahasa Sulawesi Utara untuk minuman tradisional yang mengandung alkohol tinggi berkisar 40 persen. Bahan dasar pembuatannya berasal dari air sadapan yang menetes dari pohon enau atau aren. Sebutan ilmiahnya Arenga pinnata atau sinonimnya Arenga saccharifera.

Alasan masyarakat didaerah memproduksi Cap Tikus cukup simpel. Selain untuk menambah pendapatan ekonomi petani aren, minuman CT juga diyakini sebagai minuman kesehatan untuk menghilangkan berbagai penyakit yang ada didalam tubuh. Wajar jika peredaran minuman ini susah untuk dimusnahkan secara total, mengingat dua alasan seperti yang termaktub diatas.

Tentunya banyak solusi yang telah ditawarkan kepada petani aren. Yakni dengan menjadikan aren sebagai gula merah sehingga menjadi sumber utama pendapatan ekonomi petani menggantikan Cap Tikus.

Namun karena harga jual gula merah dipasar cukup murah, menyebabkan banyak petani aren lebih memilih untuk memperoduksi cap tikus karena harga jualnya cukup menjanjikan.  

Naif jika kita meletakkan produksi cap tikus pada spektrum hitam-putih. Sehingga usaha untuk memberangus cap tikus bukan sekedar urusan untuk menegakkan syariat atau demi kebaikan moral, karena tentunya ada sumber kehidupan pada sisi utamanya.

Olehnya itu, pengembangan ekonomi untuk petani aren perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Dengan tujuan, tidak terputusnya rantai pada upaya pemusnahan cap tikus di Kabupaten Banggai. Karena tentunya, semua saling berkaitan pada konteks ini yakni masyarakat-polisi-pemerintah.

Pohon aren memang punya banyak manfaat, yakni ijuk dari pohon enau dipintal menjadi tali atau dijadikan sapu, buat kuliner bulan puasa yakni kolang-kaling, dan gula aren. Namun kembali lagi, karena harga dipasar murah, sehingga petani memilih memproduksi cap tikus.

(Mhr)

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan