NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

REGIONAL

Pemda Banggai dan Kacamata Kuda di Kawasan Tanjung

Selasa, 30 /05/ 2017 23:12:34 3102 Pembaca  

"Kacamata Kuda", kalimat ini sering di pakai untuk menggambarkan perilaku yang bertindak tanpa melihat kanan kiri, yang terpenting adalah tercapainya tujuannya walaupun orang disekitar menderita.

Transsulawesi.com, Banggai -- Tentu kita sering mendengar istilah "Kacamata Kuda", kalimat ini sering di pakai untuk menggambarkan perilaku yang bertindak tanpa melihat kanan kiri. Yang terpenting adalah tercapainya tujuannya walaupun orang disekitar menderita. Atau singkatnya tak perlu melihat kesamping, cukup berjalan menuju ke depan, ke arah yang dapat dilihat.

Penggusuran kawasan Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kabupaten Banggai sangat menyedot perhatian publik di kota air. Banyaknya warga banggai yang berada di rantau juga turut bersimpati terhadap kondisi warga tanjung kini. Bagaimana tidak, sebanyak 1411 jiwa dari 343 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal mereka pada penggusuran pemukiman warga dengan luas objek seluas 6,4 Hektar. Sehingga dalam melihat persoalan tanjung untuk saat ini, tidak hanya menggunakan sudut pandang hukum saja, namun harus melihat sisi kemanusiaannya.

Penggusuran pada pemukiman warga tanjung dilakukan PN Luwuk, setelah mendapatkan kekuatan hukum tetap berupa putusan “inkrah” pada Peninjauan Kembali Mahkamah Agung No. 655/PK/Pdt/2000, tanggal 13 Oktober 2003, dengan menempatkan “Salim Albakar” adalah pemilik yang berhak mendapatkan kembali lahannya di kawasan Tanjung.

Warga Tanjung pun terpaksa harus merelakan tempat tinggal mereka setelah 516 personel gabungan TNI/Polri dan Satuan Aparat Pemda Banggai ikut turun mengeksekusi rumah mereka pada Rabu (03/05/2017).  Kini mereka hanya duduk termenung mengingat rumah mereka yang hancur dihantam alat berat yang dikerahkan. Perlawanan kaum perempuan dan tangisan anak-anak balita pada waktu itu tak mampu menghentikan alat berat yang terus menggaruk habis rumah-rumah mereka tanpa ampun.

Setelah kehilangan tempat tinggal mereka, warga tanjung mengecam Bupati Banggai Ir. Herwin Yatim terkait perlindungan dari pemerintah. Kecaman dari warga tanjung pun tak terbendung, sekitar puluhan papan yang bertuliskan mengecam tindakan tutup mata Bupati dan Wabup Banggai sengaja dipasang disekitar areal penggusuran. Dari pantauan, memang orang nomor wahid di Kota Air tersebut belum terlihat batang hidungnya di kawasan tanjung untuk menyapa warga.

Namun anehnya, entah merasa terpanggil atau karena apa, Ketua Generasi Muda Luok, Samsuridjal Poma pasang badan untuk Herwin Yatim. Ia mengingatkan bahwa penggusuran pemukiman warga Tanjung, Kelurahan Karaton, sebaiknya tidak dipolitisasi dari pihak-pihak tertentu. Lanjutnya, penggusuran pemukiman warga tanjung adalah murni pada persoalan ranah hukum. Sehingga sebaiknya tidak disangkut pautkan dengan persoalan politik. “Jangan politisir kasus eksekusi tanjung, karna ini adalah masalah hukum murni”. Ujarnya.

Samsuridjal Poma terkesan mempersempit ruang perspektif warga tanjung yang kini tak punya rumah pada persoalan hukum saja. Mungkin ia tak melihat pada sisi kemanusiaan, yakni dimana sekitar ratusan warga negara di tanjung yang kini hidupnya memprihatinkan.

Berbeda pendapat, DPRD Banggai menyayangkan peran pemerintah daerah banggai yang tidak siap terkait penggusuran warga tanjung. Ketua DPRD Banggai, Samsul Bahri Mang pada kesempatan bicaranya mengatakan bahwa pemda seharusnya perlu menyiapkan lahan dan pemukiman untuk relokasi warga. “ketika mau ada eksekusi, seharusnya (Pemda) siapkan memang itu relokasi”.

Bahri Mang juga menyesalkan rekomendasi DPRD pada 2 mei lalu yang tidak di indahkan oleh pihak pengadilan dan kepolisian banggai. “tolong hargai itu rekomendasi kami”. Ujarnya.

Sementara itu,  Ketua DPD Nasdem Banggai Batia Sisilia Hadjar, Ia merasa sedih melihat kasus penggusuran oleh pemerintah yang dilaksanakan Pengadilan Negeri Luwuk terhadap 248 bangunan yang dihuni 1.114 jiwa. "Ini sungguh sangat miris. Dari sisi luasan ini penggusuran yang sangat luas dilakukan oleh pemerintah. Karena itu problem ini tidak hanya menjadi problem ditingkat daerah, tapi berskala nasional," ujarnya.

Batia juga menyoroti kondisi terkini masyarakat korban penggusuran yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak atau sesuai dengan standar hidup yang dicanangkan pemerintah. "Ini artinya pemerintah kembali menciptakan kemiskinan didaerah. Karena salah satu indikator orang dikatakan miskin yaitu tidak memiliki hunian," terangnya.

Tidak siapnya Pemda Banggai sejak dini pada penggusuran pemukiman warga tanjung berakibat fatal. Ratusan warga kini hidup terlantar, banyak dari mereka yang tidur dan hidup dibawah tenda-tenda darurat atau posko-posko penampungan warga.  Tentunya ini perlu perhatian ekstra dari pemda banggai karena menyangkut sisi kemanusian.

Wajar saja, jika keinginan Bupati Banggai, Herwin Yatim dan Wakilnya Mustar Labolo untuk bertatap muka dan berbicara dihadapan para Ibu Rumah Tangga korban penggusuran paksa di Tanjung harus pupus. Keinginannya bisa berdialog dan memberikan pemahaman langkah langkah yang diambil pasca eksekusi tidak terwujud lantaran warga yang datang bersama anaknya menolak keberadaan sang bupati dan wakil di momen acara “ Inta Torang Bermain” yang diselenggarakan Aisiyah Kabupaten Banggai. Minggu (14/5/2017).

Apapun kajian dan perspektif yang coba di bangun untuk menjadi benteng opini atas kecaman warga terhadap pemerintahan Herwin Yatim dan Mustar Labolo terkait kondisi kehidupan warga tanjung kini akan terkesan tidak manusiawi. Karena pada faktanya, ada ratusan warga kabupaten banggai yang kini hidup tanpa rumah begitu juga dengan anak-anak yang trauma dan terancam putus sekolah.

Sehingganya menjadi pertanyaannya masihkah relevan jika kita melihat persoalan penggusuran warga tanjung hanya pada persoalan hukum saja. Kemudian, mungkinkah kita mampu menafikkan fakta kemanusian bahwa ratusan saudara saudara kita kini hidup berteduh dibawah tenda seadanya. Tentunya jawaban bisa iya, jika kita hanya menggunakan kacamata kuda.

(Mhr)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan