NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Fokus

Warga Tanjung: Cerita Kehidupan Setelah Kehilangan Jelang Ramadan

Rabu, 24 /05/ 2017 23:38:52 14065 Pembaca  

Menjelang bulan suci Ramadan umat muslim, nasib mereka sangat memprihatinkan. (Foto: transsulawesi.com)
Menjelang bulan suci Ramadan umat muslim, nasib mereka sangat memprihatinkan. (Foto: transsulawesi.com)

Transsulawesi.com, Banggai -- Sekitar ratusan warga korban penggusuran di tanjung hingga kini nasibnya terlunta-lunta menunggu nasib baik berpihak pada mereka. Menjelang bulan suci Ramadan umat muslim, nasib mereka sangat memprihatinkan.

Disaat umat muslim lainnya sedang bahagia berkumpul bersama dengan keluarga menyambut bulan suci Ramadan, mereka hanya bisa berkumpul bersama di tenda-tenda darurat terpal biru berukuran 8 meter persegi. Tenda tersebut menjadi atap langit dari guyuran hujan dan terik matahari setipa harinya.

Mereka tidur pulas walau berdempetan, tak peduli debu dan bisingnya kendaraan yang lalu lalang disamping tenda. Sesekali wajah tersenyum tatkala beberapa warga datang mengulurkan tangan kepada mereka. Terhitung 13 hari setelah penggusuran nasib baik tak jua menyentuh mereka. Jelang dua hari memasuki bulan puasa, mereka tak tau harus kemana.

Saat malam hari tiba, mereka hanya duduk termenung mengingat rumah mereka yang hancur dihantam alat berat yang dikerahkan. Tangisan kaum perempuan dan anak-anak balita pada waktu itu tak mampu menghentikan alat berat yang terus menggaruk habis rumah-rumah mereka tanpa ampun.

Pasca penggusuran, mereka mengaku bahwa kehidupan mereka semakin sulit. Kini mereka terpaksa hanya mampu untuk bertahan hidup di tenda tenda darurat, mushola pelabuhan, atau membangun pondok rumah darurat.

Cerita mereka berbeda beda, sebagian dari mereka belum memiliki cukup uang menyewa rumah atau sekadar menumpang di rumah sanak famili, para korban ada yang memilih tinggal di bawah pohon. Beberapa warga juga nekat mendirikan tenda seadanya di dekat puing bangunan.

Menjelang Ramadan, umat islam sepatutnya belajar dari teladan Rasulullah SAW. Keberpihakannya untuk selalu berbagi kepada kaum lemah bukan hanya direfleksikan dengan sikap dan perbuatan semata, namun diiringi dengan ketulusan permohonan kepada Allah untuk selalu dekat bersama orang yang lemah dan menderita, apalagi mereka yang sakit.

Dalam setiap kesempatan Rasulullah selalu mengingatkan kepada para sahabatnya.

“Aku adalah bapaknya anak yatim dan sahabat bagi orang miskin."

(Mhr)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan