NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Publika

Pengungsi Tanjung: Pondok Darurat Untuk Sambut Ibadah Puasa

Sabtu, 20 /05/ 2017 23:41:48 4045 Pembaca  

Warga menatap kosong bangunan rumah mereka yang rata dengan tanah. (FOTO: Ist)
Warga menatap kosong bangunan rumah mereka yang rata dengan tanah. (FOTO: Ist)

Transsulawesi.com, LUWUK -- Korban penggusuran di kawasan Tanjung Sari, Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, yang digusur pada 3 Mei 2017 lalu memilih akan mendirikan pondok tinggal seadanya. Setelah rumah mereka diratakan dengan tanah, mereka harus mendirikan pondok tinggal untuk menyambut datangnya ramadhan.

“Rata rata mereka yang sudah tinggal di posko pengungsi akan mendirikan rumah tinggal dari sisa sisa puing penggusuran, alasannya supaya bisa lebih tenang saat menyambut ibadah puasa,” kata Kiki (30) pegiat sosial kemanusiaan yang sejak awal mendampingi para pengungsi.

Meski sudah puluhan tahun tinggal dan tercatat sebagai warga kelurahan Karaton, kecamatan Luwuk, dikawasan tanjung, juga memiliki sertifikat hak milik atas lahan yang ditempati. Kini mereka tak lagi memiliki rumah.

“Banyak yang tidak menyangka, jika menjelang ramadhan tahun ini mereka tidak memiliki lagi tempat tinggal,” Ujar Kiki sembari membagikan permen ke anak anak pengungsi.

BACA: Rifai Matorang Sesalkan Penggusuran tanpa Solusi, Batia ungkap Ada Pemiskinan di Daerah Ini

Mereka yang kini tinggal bersama di posko pengungsi, hanya bisa meratap akan pergi kemana, setelah bertahan selama dua pekan di posko pengungsi.

Seperti yang dirasakan Muhammad Zan, (56). Ia dan istrinya serta tiga anak masih bertahan diposko, dalam keseharian Zan berburu besi kiloan yang didapatkannya di antara reruntuhan bangunan berkonstruksi besi.

“Masih belum tau kemana, sementara disini saya cari besi tua untuk dijual kembali, biasa sehari dapat 50 kilo, uangnya 50 ribu,” ujar Zan.

“Dan itu disimpan untuk hadapi bulan puasa, mudah mudahan bisa buat beli baju lebaran anak juga,” imbuhnya.

Senasib dengan Muhammad Zan, Wamina (43) dengan anak bayinya yang baru berumur 7 bulan mengeluhkan jadwal penggusuran yang berdekatan dengan momen bulan puasa. Sebab, ia kewalahan mencari tempat pindah disaat tidak memiliki persiapan.

“Bingung tujuh keliling, rumah digusur, tidak ada tabungan, tambah lagi tidak ada simpanan. Untung ada donasi dari warga sehingga masih bisa makan dan bisa beli susu akbar (7) bulan”. Keluh Wamina yang menghuni posko II pengungsi.

Pantauan Transsulawesi.com, sejumlah pondok darurat beratap terpal sudah mulai disiapkan.  

(SF/Sam)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan