NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

OPINI

Respon Islam Terhadap Pancasila, Sebagai Ideologi Negara

Kamis, 18 /05/ 2017 15:40:30 11941 Pembaca  

(ilustrasi: Deviantart)
(ilustrasi: Deviantart)

Transsulawesi, Opini -- Gagasan mendirikan negara bangsa merupakan hasil dari pergulatan perjuangan dari parah tokoh dan rakyat yang ada di seluruh Nusantara. Pada sejarahanya peradaban Nusantara menjadi tempat dan tumbuh kembangya agama (Hindu, Budha, Islam) pada masa kerajaan.

Bermacam-macama tradisi dan budaya telah mengakar dalam diri setiap orang yang ada di Nusantara kala itu. Sehingga gagasan mendirikan negara bangsa modern merupakan semangat dari keberagaman tradisi, dan  budaya yang di miliki oleh Nusantara.

Indonesia adalah buah hasil dari perjuangan para pendiri negara bangsa. Dan Indonesia merupakan representasi Nusantara pada masa lalu. Keberagaman tradisi dan budaya pada nusantara tercermin pada negara Indonesia. Yang tidak hanya memiliki satu suku, ras, dan agama.

Berdasarkan kemajemukan itulah, kemudian pendiri bangsa menggagas satu ideologi negara yang sesuai dengan karateristik bangsa kita. Sebuah Ideologi yang melindungi dan mengakui keragaman tradisi, budaya, dan agama yang ada di Indonesia.

Terbentuknya ideologi bangsa (Pancasila) di harapkan bisa menumbuhkan kesadaran secara kolektif pada diri rakyat Indonesia dalam bernegara. Memberi warna dan corak utama kepada setiap gagasan politik atau social yang tumbuh pada diri rakyat Indonesia.

Gagasan para pendiri bangsa yang memprakarsai  terbentukna satu ideologi negara, tak lain hanya menginginkan adanya rasa kesatuan dan kesamaan  dalam melakoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

Upaya penggagas Pancasila (Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Supomo, K.H. Agus Salim, K.H Abdul Wahid Hasyim, dan Mr. Mohammad Yamin) sebagai Ideologi dalam berenegara tak lepas dari pengaruh keyakinan mereka beragama. Sehingga nilai mengenai alam, manusia, benda-benda ekonomi pada ajaran agama di cantumkan dalam nilai-nilai Pancasila.

Pancasila itu kemudian di sepakati oleh pimpinan organisasi-organisasi Islam sebagai pondasi bernegara, hingga di deklarasikan pada kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945).

Akhir-akhir ini, setelah sekian lama kita menjaga kesatuan dalam menjalani kehidupan bernegara dan berbangsa. Kembali timbul pemberitaan mengenai ideologi yang menentang atau bahkan di sinyalir memecah belah keutuhan Indonesia.

Ideologi yang di anggap memecah belah Indonesia berasal dari ormas yang berideologikan agama. Ormas Islam lah yang di tuding melakukan gerakan radikalisme yang mengancam keutuhan negara. Ada sebuah pertanyaan yang kembali muncul dalam benak saya, apakah ajaran Islam sudah tidak bersepaham dengan Pancasila lagi saat ini ? Tentunya tidak.

Pada masa lalu, sudah sedikit dibahas sebelumnya. Tak bisa kita nafikan bahwa bagian dari pada pendiri negara bangsa adalah pimpinan organisas Islam, dan tokoh yang berlatar belakang agama Islam.

Artinya bahwa, ajaran Islam mempunyai kaitan dengan pendirian negara bangsa (Indonesia) dan perumusan Pancasila. Sehingga perlu kita kembali membumikan tentang tinjauan para pendahulu mengenai ajaran Islam dalam merespon kondisi saat ini (radikalisme).

Karena lahirnya gagasan tentang Pancasila sebagai Idelogi negara tak lepas dari pergulatan perjuangan fisik dan pikiran oleh para tokoh dan pimpinan organisasi Islam.

Mengenai gerakan radikalisme pada sejarahnya muncul dari Ormas Islam yang bermahzapkan wahabi (Baca Ilusi Negara Islam). Doktrin yang menyamakan semangat berislam harus di samakan dengan tempat di mana turunnya wahyu kepada Kanjeng Nabi Muhamad SAW. Indonesia harus di samakan dengan negara yang ada di Timur Tengah. Indonesia harus menjadi negara Khilafah.

Untuk mencegah pemahaman radikalisme tersebut. Pemahaman tentang kaitan antara ajaran Islam dan Pancasila untuk saat ini harus kembali di bumikan lagi. Seperti yang di lakukan oleh para tokoh pembaharu dan cendikiawan Muslim Indonesia di kala itu.

Beberapa tokoh itu adalah K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan pentolan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Nurcholish Madjid, dll.

Nurholish Madjid sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaharuan Islam di Indonesia. Pemikirannya di anggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.  

Nurcholish Madjid  dengan sapaan populer Cak Nur, banyak menulis Pancasila sebagai keputusan final sebagai common platform individu masyarakat, kelompok, dan agama (umat Islam) dalam bernegara. Dan tak ada lagi yang harus di perdebatkan antara Islam dan Pancasila.

Tulisannya tersebut di adopsi dari salah satu  tinjauannya terhadap sejarah tentang apa yang di lakukan oleh Kanjeng Nabi Muhamad SAW pada saat mendirikan negara modern Madinah yang tercantum pada Piagam Madinah.

Lewat bukunya Islam Agama Kemanusiaan, Nurcholish Madjid menegaskan bahwa dalam kehidupan bernegara, haruslah dilihat Pancasila sebagai pemersatu dan kalimat sawa’ yang mengajak semua orang agar patuh dengan ajaran Tuhan. Intinya adalah ikut menghargai keberagaman dan pluralitas yang sudah ada di masyarakat. Melalui penghargaan inilah kehidupan yang damai dan harmonis dapat terwujud.

Pemikiran Cak Nur tentang relevansi Islam dan Pancasila harus di bumikan  kembali. Agar pemerintah atau Ormas Islam, dan masyarakat memahami sesungguhya Islam merupakan ajaran yang mengedepankan untuk saling menerima dalam perbedaan.

Dalam bukunya yang lain Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, semangat berislam harus di jadikan sebagai upaya perwujudan dari setiap sila yang tercantum dalam pancasila khususnya pada sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Maka setiap individu menjadikan semangat ber Islam untuk mewujudkan cita-cita di tiap sila. Bukan semangat ber Islam di jadikan sebagai perwujudan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Mengingat pemeluk agama Islam di Indonesia lebih mayoritas dari yang lainnya.

Olehnya itu, pemuda atau mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus mengambil bagian untuk menjaga keutuhan negara. Agar pepatah Empu Tantular, dan ajaran dan gerakan para tokoh Islam terdahulu yang menjadi sumber terbentuknya negara bangsa dan Idelogi negara, masih tetap terjaga saat ini, dan kedepannya nanti.

Tak perlu lagi Indonesia harus di jadikan sebagai negara yang ber Ideologikan agama Islam atau agama lainnya. Yang justru akan menjadi sumber pemicu perpecahan rakyat di Indonesia. Indnonesia harus jaya bersama keberagamannya.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Islam adalah rahmat bagi masyarakat Indonesia. Semoga.

 

Penulis : Ramli Pilawean (Abdul Raman Lasading)

Kader HMI Cabang Luwuk Banggai

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan