NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Fokus

Kafe Dongin, Eksistensi Maksiat di Titik Nadir

Jum'at, 21 /04/ 2017 16:33:39 8620 Pembaca  

Puluhan bangunan kafe yang diduga sebagai tempat prostitusi disepanjang pantai Kilo Lima (Km 5) kelurahan Maahas, Kabupaten Banggai, rata dengan tanah pada kamis malam, 23 Juni 2016 lalu. (Foto: Transsulawesi.com)
Puluhan bangunan kafe yang diduga sebagai tempat prostitusi disepanjang pantai Kilo Lima (Km 5) kelurahan Maahas, Kabupaten Banggai, rata dengan tanah pada kamis malam, 23 Juni 2016 lalu. (Foto: Transsulawesi.com)

Transsulawesi.com, Toili – Tak banyak yang tahu jika di Kecamatan Toili Barat, Desa Dongin, terdapat banyak warung remang remang (warem) bersangga label hiburan karaoke. Mungkin, untuk sebagian masyarakat di Kabupaten Banggai, kafe dongin terdengar asing di telinga. Namun untuk kalangan tertentu, kafe dongin menjadi tempat hiburan nomor wahid.

Dari penelusuran, kafe dongin beroperasi sore hari tatkala raja matahari tergelincir menuju arah barat. Pijar lampu warna warni redup, menerangi ruang utama sekitar 7 meter persegi beralas lantai kayu. Sejumlah wanita muda menyambut para tamu pria yang datang dengan dentuman musik house musik ala diskotik ibu kota. Pesta pun dimulai, beberapa wanita muda ikut minum bersama tamu kafe. Sesekali juragan kafe bertubuh gempal datang untuk mengecek kondisi pelayanan di kafenya.

Malam pun kian larut, para tamu pria dan pelayan wanita duduk berdampingan erat hanya dibatasi oleh sehelai pakaian. Bisik bisik menggoda kian akrab tatkala kehilangan kesadaran dibawah pengaruh alkohol bir putih, begitulah gelapnya kehidupan malam di kafe dongin.

Bicara soal pemberantasan maksiat, setahun lalu puluhan bangunan kafe yang diduga sebagai tempat prostitusi disepanjang pantai Kilo Lima (Km 5) kelurahan Maahas, Kabupaten Banggai, rata dengan tanah pada kamis malam, 23 Juni 2016 lalu. Usaha tersebut merupakan iktikad kuat dari pemerintah daerah banggai.

Namun, belum beranak sudah di timang, euforia kemenangan terlalu awal di dendangkan pada altar kesucian. Nyatanya, kafe dongin tetap beroperasi di wilayah kecamatan toili barat hingga kini. Warga sekitar kafe sering terganggu dengan suara musik yang bising di kala malam hari dan mengadu kepada pihak kepolisian toili. Apa daya, bukan tempat warem yang di tutup, justru mengalir pada muara kesepakatan bersama jadwal operasi kafe.

Genderang perang melawan maksiat di Kabupaten Banggai, pucat dan lesu bagai bulan kesiangan. Memang bukan perkara mudah untuk menutup warem di desa dongin, karena kafe tersebut merupakan sebuah bentuk usaha ekonomi pada masyarakat pengusaha bisnis hiburan. Tentunya perlu solusi konkrit untuk menyelesaikan persoalan hingga ke akar.

Niat dan tekad kuat untuk merubah wajah moral kabupaten banggai perlu diseriusi, agar masyarakat tidak menilai ada pembiaran pada tempat maksiat di ujung Toili Barat.

(Mhr)

 

Komentar

#HEADLINE

Bupati Banggai Lantik dan Ambil Sumpah Sekab yang Baru
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan