NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Dari Pengusiran WNA Hingga Mogok Kerja, Ratusan Pekerja di SSA Terancam Tak Terima Gaji Penuh

Peristiwa Rabu, 12 /04/ 2017 14:49:21 3911 Pembaca  

Saat karyawan PT. SSA yang melakukan unjuk rasa terkonsentrasi di Gate masuk area BAP, PT. PAU (FOTO: IST/transsulawesi.com)
Saat karyawan PT. SSA yang melakukan unjuk rasa terkonsentrasi di Gate masuk area BAP, PT. PAU (FOTO: IST/transsulawesi.com)

Transsulawesi.com, Batui - Sudah sepekan pelaksanaan proyek konstruksi di Banggai Amonia Plant (BAP) desa Uso Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah terhenti. Menyusul gelombang unjuk rasa yang diikuti aksi mogok ratusan karyawan dari salah satu subkon yang bernaung dibawah bendera PT. Rekayasa Industri (Rekind).

Aksi demo dan mogok yang diprakarsai kelompok kerja pemasangan pipa (Piping) berjalan dengan mengatasnamakan asosiasi pipefiter, dominan dari peserta aksi aktif bekerja di PT. Sepuluh Sumber Anugerah (SSA).

Akibat memakan waktu yang panjang, aksi ini tergolong yang terlama dari demo yang pernah ada di BAP, dimana aksi mulanya di lakukan pada, Rabu (05/04). Namun, hingga rabu ini, 12 April 2017 masih berlanjut.

Dari sejumlah informasi yang dihimpun transsulawesi.com, sesungguhnya kegiatan aksi tersebut, dinilai tidak sepenuhnya mendapat simpati dari karyawan lainnya. Misalnya ada 200-an lebih karyawan SSA memilih tetap bekerja dan enggan ikut bergabung dalam unjuk rasa.

Alasannya, agar dapat kembali bekerja normal dan mendapat gaji penuh seperti bulan bulan sebelumnya. Sebut saja Abdullah (nama samaran), Ia lebih memilih memisahkan diri dari kelompok pengunjuk rasa, ia beralasan jika terlalu sering ada pemogokan, dirinya tidak dapat memenuhi kebutuhan sekolah anak anaknya.

"Kasihan kalu sampai sebulan dua minggu tidak bekerja, bagaimana anak saya mau sekolah dan makan," keluh Abdullah.

Senada dengan yang lainnya, akibat kejadian ini, karyawan lain di PT. SSA merasa terkena imbas. Dimana, mereka tidak dapat bekerja karena pemogokan sepihak.

"Jika 6 hari tidak mendapat upah kerja, sekiranya kami (pekerja) kehilangan 8 ratus ribu hingga 1 juta rupiah. Nah, bagaimana kalu sampai dua minggu tidak masuk kerja." ujar rekan Abdullah lainnya.

Sebagai pihak kontra, mereka menilai dalam perjalanan aksi yang dilakukan dianggapnya sudah sangat kebabalasan dan asal asalan. Pasalnya, tuntutan yang dilakukan pendemo sering berubah ubah.

"Awalnya pesangon, trus perekrutan, sudah begitu soal upah, tidak lama kemudian menuntut pengusiran (pemulangan-red) warga lainnya yang datang cari makan disini." masih ujar sumber yang sama.

TUNTUTAN

Aksi bermula saat unjuk rasa pada rabu kemarin dengan tuntutan agar pihak Rekind segera memulangkan tenaga kerja luar daerah serta pembubaran Departemen Community Development (Comdev) yang mengurusi penerimaan tenaga kerja.
Dari aksi itu kemudian berbuntut pada pengusiran salah satu petinggi PT. SSA yang berkewarganegaraan Korea Selatan. "Benar itu yang kami usir Mr. Angh asal korea," ujar salah satu peserta aksi .

Menghindari kejadian diluar dugaan, hari itu juga Mr. Angh langsung dibawah ke Mapolsek Batui agar mendapat perlindungan, sebelum akhirnya dibawah ke Mapolres Banggai dengan pengawalan ketat dari pihak aparat keamanan.

Walau unjuk rasa dilakukan para karyawan maupun eks-karyawan (SSA), namun peserta aksi mengklaim tuntutan  yang mereka suarakan merupakan tuntutan masyarakat lokal (Batui).

Berikut 7 Tuntutan yang disuarakan seperti kutipan edaran peserta aksi :

1. Pulangkan orang kiriman (Hayer) yang datang dari luar kabupaten Banggai, yang sama skillnya dengan masyarakat lokal

2.Bubarkan Kondev karena tidak transparan dalam melakukan perekrutan tenaga kerja lokal dan tidak memiliki izin supply Menpower,

3. Datangkan Kepala Disnakertrans untuk mengkalrifikasi masalah aturan ketenagakerjaan yang mana masih banyak tenaga kerja yang masuk ke kecamatan batui kabupaten banggai tanpa membuat surat AKAD, (Antar kerja antar Daerah),

4. Pekerjakan semua tenaga kerja lokal yang skill maupun non skill yang ada di wilayah kabupaten banggai,

5. Bila terjadi pengurangan tenaga kerja diseluruh subkon yang dibawah naungan PT. Rekind harus mengutamakan pekerja kiriman,

6. PT. Rekind apabila mendatangkan sub kontraktor hharus yang benar benar mengikuti UU ketenagakerjaan yang berlaku di NKRI,

7. Apabila tuntutan ini disetujui harus ditandatangani oleh pihak PT. Rekind dan PT. Panca Amara Utama (PAU).

BACA JUGA : Dua Asosiasi di Banggai Amoniac Plant, PT. PAU sudah Dibekukan, Tapi tetap Ngotot

(SF/FA)
 


 

#HEADLINE

Soal Utang Nyaris Rp 4.000 T, Ekonom: Harus Dorong Produktivitas
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan