NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

EKONOMI

Penyuling Cap Tikus Tidak Lagi di Persimpangan Kriminalitas dan Ekonomi

Jum'at, 07 /04/ 2017 17:03:48 8294 Pembaca  

Kapolsek Pagimana. IPTU. Musa, S.Sos bersama bapak angkat langsung mengunjungi lokasi pembuatan Gula Aren di Desa Ampera (FOTO: Irfan Manoarfa/transsulawesi.com)
Kapolsek Pagimana. IPTU. Musa, S.Sos bersama bapak angkat langsung mengunjungi lokasi pembuatan Gula Aren di Desa Ampera (FOTO: Irfan Manoarfa/transsulawesi.com)

TRANSSULAWESI.com, Pagimana -- Captikus. Dikenal cukup luas masyarakat di kabupaten Banggai. Minuman beralkohol khas masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara ini menjadi miras yang banyak dikonsumsi kalangan menengah kebawah.

Hal itu bisa diketahui dari banyaknya jumlah rumah produksi cap tikus yang diberangus pihak aparat kepolisian resor banggai baru baru ini. Menyusul maklumat kapolres Banggai yang memerintahkan penutupan tempat penyulingan cap tikus  secara serentak di wilayah hukum kabupaten banggai.

Walau demikian pihak kepolisian tidak serta merta menyelesaikan tugas dan meninggalkan para petani tanpa harapan begitu saja.
Misalnya di Pagimana, Kapolsek setempat, IPTU. Musa, S.Sos punya solusi untuk itu. Setidaknya saat ini sudah hampir sebagian petani cap tikus dikecamatan pagimana beralih profesi menjadi petani gula aren atau gula merah.

"Benar untuk menjalankan maklumat Pak Kapolres, kami (polsek pagimana) langsung menutup tempat produksi. Tapi, setelah itu kami tidak melepas para petani (cap tikus) begitu saja. Alhamdulillah, saat ini sudah ada bapak angkat yang siap menampung hasil (gula aren)mereka," ujar Musa.

Sehingga dengan demikan, kata Musa, para petani tidak lagi ada dipersimpangan antara kriminalitas dan inkam pendapatan.

"Intinya ada solusi untuk membuka ruang ekonomi baru, agar petani cap tikus tidak kehilangan mata pencahariannya," tegas dia.

Sebelumnya, Kapolsek pagimana Iptu Musa, S.Sos bersama jajaran polsek berhasil menutup tempat produksi cap tikus yang tersebar diwilayah hukum pagimana, dan catatan terakhir tempat penyulingan terbesar milik warga desa Basabungan di sebuah areal perkebunan juga ditutup.

***


Memang diakui para pembuat cap tikus yang tersebar di kecamatan Pagimana semula adalah petani pengepul gula aren atau gula merah, namun karena ada yang mencontohkan cara membuat cap tikus, mereka pun langsung meninggalkan profesi itu.

"Aslinya memang mereka (petani cap tikus) adalah pembuat gula merah, cuma ada yang ajar cara menyuling cap tikus sampai ramai ramai jadi penyuling," ujar Otniel Tahaka, Kepala Desa Nain, Kecamatan Pagimana saat ditemui transsulawesi.com. Kamis (5/4/17).

Tapi setelah ada larangan keras aparat kepolisian, para penyuling langsung istirahat memproduksi miras cap tikus, awalnya sempat bingung hendak produksi apalagi, kata Otniel, bersyukur dengan kehadiran bapak angkat sebagai pengumpul produksi gula merah gairah untuk memproduksinya bisa di mulai lagi jelas Otniel.

"Ini terobosan yang luar biasa, salut buat Kapolsek Pagimana yang bisa memikirkan keberlanjutan ekonomi warga dengan menghadirkan bapak angkat," pungkas Otniel.
 

(SF/ab)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan