NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

REGIONAL

Soal Jalur Pipa Air Bersih. Jangan Kriminalisasi Petani

Sabtu, 29 /10/ 2016 20:37:50 5499 Pembaca  

Sekelompok orang yang disinyalir ditunggangi pihak kontraktor melakukan aksi blokade kepada warga dusun boloboloa setelah dua warga didusun ini menolak kebunnya digusur untuk lintasan pipa dengan alat berat. Mereka menginginkan apabila dikerjakan manual agar tidak merusak tanaman yang ada. Jumat (28/10/16).
Sekelompok orang yang disinyalir ditunggangi pihak kontraktor melakukan aksi blokade kepada warga dusun boloboloa setelah dua warga didusun ini menolak kebunnya digusur untuk lintasan pipa dengan alat berat. Mereka menginginkan apabila dikerjakan manual agar tidak merusak tanaman yang ada. Jumat (28/10/16).

BANGGAI, Batui – Proyek pemancangan pipa air bersih yang semula direncanakan digali secara manual ternyata tidak. Sebagian besar rute jalur pipa air bersih yang melintasi kebun warga diwilayah perkebunan  kelurahan Sisipan dan kelurahan Tolando dibuat dengan menggunakan alat berat, akibatnya ratusan tanaman wargapun dirusak.

Sekalipun demikian, Camat Batui Jasmin Mangantco menjamin bahwa proyek akan terus berjalan tanpa penghentian. Hal itu diungkapkannya setelah memediasi 5 pemilik lahan yang sempat melakukan protes atas pekerjaan tersebut.

“ Gak ada penghentian, saya sudah mediasi tadi, tetap dilanjutkan karena sudah ada upaya mediasi dengan pemilik lahan.” Ujarnya, Jumat (28/10/16).

Sebagai jaminan, Jasmin tak segan segan akan memerintahkan pihak kepolisian sektor batui untuk menangkap siapa saja yang berupaya menghalangi pekerjaan tersebut.

BERITA TERKAIT:  Protes Alat Berat Kontraktor, Sekelompok Orang Nyaris Picu Konflik

Secara terpisah, Haris Kutondong salah seorang petani penggarap mengaku tetap akan bertahan dan tidak akan mengijinkan pihak kontraktor melakukan penggalian, sebelum 54 pohon kakao yang dirusak alat berat di konpensasi terlebih dahulu oleh kontraktor.

Menurut Haris selama ini dirinya tidak pernah diberitahukan atau mendapat undangan sosialisasi terkait penggusuran itu, ia hanya tau jika proyek akan melintasi tanah garapannya dikerjakan secara manual tanpa alat berat.

“Saya cuma tau pake alat manual jadi saya pikir kerusakan tanaman tidak seberapa, , tapi pas besoknya saya liat sudah digusur ternyata mereka gunakan alat berat. Tidak tau ijin ke siapa karena saya tidak pernah diberitahukan,” ujar Haris menyayangkan kejadian itu.

Jadi yang ditangkap itu kontraktor, bukan petani yang harus di kriminalisasi tuturnya.

“Sehingga saya tegaskan hargai kami yang selama ini merawat dan mencari makan dari hasil tanaman yang tergusur itu, 54 pohon kakao produktif adalah sumber kehidupan saya.” Tegas Haris. (SAF/Ab)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan