NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

OPINI

Catatan Kecil Muh Masykur : Bertani Tomat Seperti Judi Togel

Selasa, 27 /09/ 2016 14:50:31 28335 Pembaca  


Momen penantian bagi petani adalah ketika masa  panen perdana tiba, Momen itu yang sangat dinanti-nantikan. Setelah seratus lima (105) hari lamanya menunggu dengan sabar. Namun dibalik kesabaran itu, rasa cemas kerap menghantui. 

Dimulai dari masa persamaian benih selama 15 hari, kemudian memasuki masa tanam, selanjutnya pemeliharaan dan panen selama 90 hari. 

Masa-masa itu tidak ubahnya seperti masa yang penuh dengan pergulatan. Bergulat dengan waktu dan bertempur dengan masa pemeliharaan yang terbilang amat sangat menyita tenaga dan modal.

Berdasarkan testimoni, Syahdan, petani Desa Pombeve, menceritakan siklus usaha tanaman tomat. Kali ini, ia menanam sebanyak 10.000 bibit tomat di atas lahan seluas 1/4 hektar. 

Dengan luasan dan jumlah bibit seperti itu, saya harus menyediakan modal usaha sebesar Rp. 15 juta untuk dialokasikan sesuai peruntukannya. Yakni biaya persemaian benih, upah kerja (ongkos bajak, bedeng, penyiangan, upah panen), beli ajir (tiang ganjaran). Biaya Saprodi (pupuk, obat dan mulsa plastik, tali ravia, tali gawer),

Ketika masa panen tiba seperti saat ini, saya memperkirakan hasil panen sebanyak 8 ton. Sehingga jika dikalikan dengan harga Rp. 800/kg maka nillainya hanya Rp. 6,4 juta. Jadi dengan modal Rp. 15 juta yang dikeuarkan, saya mengalami kerugian. 

Kalau melihat harga di pasar saat ini, dari petani ke pedagang pengumpul Rp. 800. Pedagang pengumpul ke pedagang besar Rp. 1.000, dan dari pedagang besar ke konsumen Rp. 2.500-3.000.
.  
Begitulah fakta yang harus diterima oleh setiap petani. Bertanam tomat ini mujur-mujuran. Kalau harga beli mahal hasilnya pun juga menggembirakan. Tapi jika harga turun seperti saat ini maka petani harus pikirkan bagaimana cara bisa bayar utang. Jadi bertani tomat itu seperti judi togel, keluh Syahdan. 

Menurut Muh. Masykur, Ketua Fraksi NasDem DPRD Sulteng, apa yang dialami petani ini membuat kita miris. Miris karena setiap saat petani diperhadapkan dengan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian. Jeratan  lingkaran setan kemiskinan terus menerus melilt petani kita. 

Lebih lanjut, Wakil Rakyat dari Dapil Kab. Sigi-Donggala ini menegaskan, semestinya negara melalui Pemerintah Daerah (Pemda) tidak bersikap acuh dan seolah menutup mata. Hukum pasar kapitalistik seperti ini tidak bisa dibiarkan berjalan dan bergerak sepenuhnya sesuai hukum-hukumnya. 

Sebab, sebagai pihak yang diberi mandat konstitusi, Pemda memiliki kewenangan untuk ambil peran dalam situasi ini, ujar Masykur.

Oleh karena itu, Masykur menghimbau kepada Pemda Sulteng untuk bisa melindungi kepentingan petani, termasuk didalamnya kontrol atas harga pasar. 

Sebab, mandat konstitusi harus dijalankan, dimana, tanggungjawab untuk mensejahterahkan rakyat, termasuk petani, inheran didalamnya, tutup Masykur.  

Pombeve, 26/9/2016

Penulis : Muh. Masykur M / Ketua Fraksi Nasdem DPRD Sulteng


 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan