NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Historia

Tarawih “Super Cepat” di Blitar, Sudah Turun Temurun

Selasa, 14 /06/ 2016 16:31:57 12274 Pembaca  

Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, melakukan salat Tarawih “super cepat”. Sebanyak 20 rakaat dan 3 rakaat witir selesai dalam waktu lebih kurang tujuh menit saja.
Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, melakukan salat Tarawih “super cepat”. Sebanyak 20 rakaat dan 3 rakaat witir selesai dalam waktu lebih kurang tujuh menit saja.

TRANSS, Blitar - Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, melakukan Salat Tarawih “super cepat”. Sebanyak 20 rakaat dan 3 rakaat witir selesai dalam waktu lebih kurang tujuh menit saja.

Pengasuh pesantren Mambaul Hikam, KH Diya’uddin Az-Zamzami, mengakui bahwa tarawih super cepat sudah berlangsung secara turun-temurun sejak pesantren tersebut didirikan oleh KH Abdul Ghofur sekitar 160 tahun lalu.

“Saya ini hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh para sesepuh. Kami tidak berani mengubahnya,”. Ujarnya.

Mengenai tarawih super cepat yang telah ramai diperbincangankan di publik, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. Hasanudin AF, MA, menyatakan bahwa di dalam shalat harus memenuhi rukun shalat.

“Tuma’ninah itu rukun dalam shalat, jika di dalam shalat tarawih tersebut tidak terdapat rukun (tuma’ninah, red), berarti shalatnya tidak sah,” kata Hasanudin.

Hasanudin menambahkan dalam membacakan surat al-Fatihah dan surat pendek lainnya di dalam shalat juga harus dibacakan dengan tartil. Dalam al-Qur’an sendiri, lanjutnya, menyatakan bahwa “bacalah al-Qur’an dengan tartil”, artinya tajwid dengan panjang pendek bacaan harus benar.

“Kita harus meperhatikan juga seperti apa bacaan al-Fatihahnya. Sebab, al-Fatihah itu kan salah satu surat di dalam al-Qur’an, sementara al-Qur’an menyatakan “bacalah al-Qur’an itu secara tartil”, yaitu tajwid dan panjang pendeknya harus dibaca benar. Karena itu pedomannya dan jika menyalahi itu berarti sudah melenceng,” dijelaskan Hasanudin.

Jadi, menurut Hasanuddin, di dalam shalat itu harus memenuhi rukun shalat seperti tuma’ninah, dan ketika membacakan surat al-Fatihah (surat-surat al-Qur’an,red) juga harus tartil. Mereka (jama’ah shalat tarawih yang tercepat,red), harus memperhatikan hal-hal itu.

Sekedar informasi, salah satu rukun shalat terpenting adalah tuma’ninah, yakni tenang dan tidak tergesa-gesa.  Sebab tuma’ninah merupakan salah satu rukun shalat yang harus dikerjakan agar shalatnya menjadi sah.

(adjie)

 

Komentar

#HEADLINE

Bupati Banggai Lantik dan Ambil Sumpah Sekab yang Baru
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan