NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Historia

Allah Pemilik Pahala Puasa

Minggu, 12 /06/ 2016 18:39:08 33205 Pembaca  

Oleh : Fajar Shofari Nugraha
Oleh : Fajar Shofari Nugraha

Oleh : Fajar Shofari Nugraha

Sebagai seorang Muslim, kita pasti telah mengetahui bahwasa puasa itu memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lainnya. Ibadah lainnya akan kembali untuk manusia, yaitu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan hingga lebih dari itu. Namun tidak untuk ibadah puasa,. Ibadah tersebut, Allah khususkan untuk dirinya, sehingga pahala puasa pun bisa tak terhingga pahalanya.

Rasulullah SAW bersabda,“ Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman yang artinya: kecuali amalan puasa, amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-Nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah daripada bau minyak kasturi." (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas, diterangkan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal, kecuali puasa. Puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.

Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan,“Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalankan kesabaran.” Mengenai ganjaran orang yang bersabar Allah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 10: sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman yang artinya: setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jimak (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah salat. Dalam salat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu terjadi dalam waktu yang singkat. Kita bisa menyantap makanan dam minum setelah salat itu selesai dikerjakan.

Kemudian, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan yang lainnya mengatakan,“Dalam puasa sulit sekali terdapat riya (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.

Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini, sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Dan Allah akan memberikan tempat terbaik bagi orang yang selalu mendekatkan diri pada-Nya kelak di akhirat. Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis adalah Ustaz Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa).

Pertama kali di publikasikan : beritasatu.com

 

Komentar

#HEADLINE

Uniknya Proses Penyelamatan Hiu Tutul di Sombori
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan