NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Metro Sulawesi

Cap Tikus Jelang Natal, Permintaan Naik! "Sebotol Rp 30 Ribu"

Kamis, 24 /12/ 2015 07:37:49 11069 Pembaca  


MANADO - Khusus di Sulut, apalagi di tanah Minahasa minuman keras (miras) identik dengan minuman tradisional Cap Tikus.

Hampir setiap berbicara miras, selalu akan lebih spesifik ke minuman Cap Tikus.

Hal ini karena Cap Tikus merupakan minuman keras murah meriah yang mudah diperoleh masyarakat, sehingga kebanyakan warga yang minum minuman keras adalah jenis ini.

Kabarnya sejak memasuki Natal dan Tahun Baru permintaan Cap Tikus ke petani maupun melalui pengusaha pengumpul meningkat.

Contoh, jika bulan-bulan sebelumnya petani Cap Tikus di Kecamatan Tareran hanya bisa memproduksi 7 sampai 8 liter per hari. Namun belakangan ini mereka bisa memproduksi hingga 12 liter per hari.

Frangky R, Petani Cap Tikus mengatakan dia setiap hari memproduksi 12 liter minuman, itu bisa diiisi ke dalam 18 botol ukuran minuman bir.

"Setiap botol kami jual Rp 30 ribu. Bulan lalu kami jual hanya Rp 25 ribu saja. Ada pembeli yang datang langsung dari luar Minsel dan memang kami akui saat ini permintaan meningkat," katanya

Hasil produksinya dijual ke pedagang pengumpul hingga tingkat pengecer. Produksi Cap Tikus dari Tareran ini dipasok juga sampai keluar Minsel.

Donald Lumempow, warga Desa Koreng, Kecamatan Tareran meminta pemerintah tidak melarang produksi Cap Tikus.

"Contoh saja, waktu lalu ada pelantikan wisudawan di sebuah perguruan tinggi diketahui sebagain besar lulusan sarjana itu orangtuanya bermata pencaharian sebagai petani cap tikus," katanya.

Baginya, cap tikus dianggap buruk karena pribadi yang mengkomsumsinya secara berlebihan. Padahal kalau dikonsumsi sesuai takaran akan menyehatkan tubuh.

"Jadi ini tergantung dari sesorang yang minum cap tikus. Minum berlebihan maka kita akan hilang kesadaran dan pasti ujungnya akan membawa petaka," kata Lumempow.

Sementara itu, produksi Cap Tikus di Minahasa terus menurun. Imbasnya harga minuman tradisional ini terus bergerak naik.

"Memang sudah dua bulan ini, produksi cap tikus menurun, mungkin lantaran cuaca panas beberapa waktu lalu, sehingga beberapa pohon seho juga mati," ujar Marten, petani cap tikus di Tondano, kemarin. [Tr]

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan