NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Bisnis ini Bikin ISIS Kaya Raya

Internasional Jum'at, 27 /11/ 2015 01:20:44 20024 Pembaca  

Sekian lama menghindar mengirimkan prajuritnya ke medan perang di Suriah dan Irak, pada Mei lalu Pentagon mengirimkan pasukan khusus Delta ke Suriah. Menumpang dua helikopter, prajurit Delta mengincar target bernama Abu Sayyaf.

Sang target utama, Abu Sayyaf, tewas ditembak prajurit Delta, bersama belasan anggota kelompok militan Negara Islam alias ISIS. Istrinya, Umm Sayyaf, ditangkap. Nama Abu Sayyaf hampir tak pernah terdengar di Suriah maupun Irak. Dia "hanya"-lah satu dari sekian perwira senior ISIS.

Apa yang membuat Pentagon sampai mengirim pasukan Delta ke Deir Al-Zor, Suriah? "Abu Sayyaf merupakan perwira senior ISIS yang bertanggung jawab atas operasi penjualan minyak bumi dan gas," kata Bernadette Meehan, juru bicara Penasihat Keamanan Nasional Amerika. Ada yang menyebut Abu Sayyaf adalah emir minyaknya ISIS. Bagi Pentagon, Abu Sayyaf merupakan tokoh kunci yang harus diburu untuk mencekik aliran dolar ke kas ISIS.

Jika isi kantongnya makin tipis, Pentagon berpikir, ekspansi ISIS bakal melambat. Sebab, bisnis minyak dan gas inilah yang membuat isi kantong ISIS sangat gendut. ISIS, menurut David Cohen, Wakil Menteri Keuangan Amerika untuk Intelijen Keuangan dan Terorisme, merupakan organisasi teroris paling tajir yang pernah dihadapi Pentagon.

Duit berlimpah itulah salah satu hal yang membuat ISIS begitu berotot. Setelah mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat milik maskapai Metrojet dari Rusia, ISIS membunuh 130 orang lewat serangan secara simultan terhadap beberapa target di Kota Paris. Selama beberapa hari terakhir, anggota ISIS menebar kematian di Tunisia dan Libanon.

Business Insider


Dari sumur-sumur minyak kecil di Deir Al-Zor saja, setiap hari ISIS bisa memompa ribuan barel minyak mentah. Di lapangan minyak Shadada, antrean truk mengular. Truk-truk itu menadah minyak mentah yang diobral murah oleh milisi Negara Islam. Rata-rata minyak mentah dari ratusan sumur kecil di Deir al-Zor hanya dijual US$ 18 per barel di pasar gelap, jauh di bawah harga minyak mentah internasional. Dari Suriah, lewat para perantara, minyak mentah itu diselundupkan dan dijual ke Turki atau Iran.

Walaupun minyak diobral murah, duit yang ditangguk nilainya sama sekali tak kecil. "Negara Islam paling tidak mendapatkan US$ 2 juta (sekitar Rp 27 miliar) setiap hari, sehingga memungkinkan mereka membayar gaji prajurit dan mengongkosi operasi militer," ujar seorang mantan eksekutif perusahaan minyak internasional yang beroperasi di Suriah kepada Guardian. Guyuran fulus dari minyak itu membuat Negara Islam tak lagi bergantung pada donasi internasional.

Seorang insinyur di perusahaan minyak di Suriah menaksir milisi Negara Islam menguasai sumur yang mampu memproduksi minyak 130 ribu barel per hari. Masalahnya, sebagian besar perusahaan minyak beserta para insinyur yang mengoperasikan sumur-sumur itu, seperti Royal Dutch Shell, Total, dan Petro Canada, jauh-jauh hari sudah angkat kaki.

"Perusahaan minyak hengkang, sumur-sumur ditutup dan rupa-rupa peralatan tandas dijarah," kata mantan eksekutif perusahaan minyak di Suriah kepada CNN. Bukan cuma dari menjual minyak mentah milisi Negara Islam mengeruk dolar, tapi juga dari jasa keamanan. Mereka mengawal jaringan pipa minyak dan memastikan aliran minyak tak terganggu. Tentu saja tak ada keringat yang mengucur dengan gratis. Perang terus berlanjut, tapi bisnis juga jalan terus.

Punya puluhan ribu "prajurit" yang harus dipasok peluru dan diberi makan, ISIS jelas butuh duit besar supaya "perang" bisa terus jalan. Seorang prajurit ISIS kabarnya digaji sekitar Rp 7 juta per bulan, sementara seorang komandan menerima Rp 15 juta per bulan. Rand Corporation menaksir, pada 2009 penghasilan ISIS per bulan masih berkisar US$ 1 juta atau Rp 13,5 miliar per hari. Tapi pada 2014, kelompok ini mampu mengeruk duit US$ 3 juta atau Rp 41 miliar per hari.

"Bisnis gelap" minyak bukan satu-satunya sumber fulus ISIS. Apalagi menyedot minyak bukan urusan gampang. Menurut Suleiman Chalaf, insinyur minyak dari Kurdistan, ISIS kekurangan tenaga terampil dan suku cadang untuk menjalankan pompa minyak. Dia memperkirakan produksi minyak dari sumur-sumur yang dikuasai ISIS bakal terus merosot. "Mereka tak akan bertahan lama," kata Chalaf kepada majalah Die Zeit.

ISIS menangguk duit tak kecil dari "bisnis" sandera dan rupa-rupa pajak. Ismail, 59 tahun, pelarian suku Yazidi di Jerman, pening kepala memikirkan beberapa kerabatnya yang masih disandera ISIS di Irak. Dia ingin menebus mereka, tapi apa daya, duit tiada. Untuk tiap kepala, paling tidak ISIS meminta tebusan US$ 2.000 atau Rp 27 juta. Harga satu sandera bisa jauh lebih mahal jika dia warga negara Eropa.

Seorang sumber Die Zeit menuturkan, beberapa waktu lalu pemerintah Qatar menyetor duit US$ 30 juta atau lebih dari Rp 400 miliar kepada perantara ISIS untuk ditukar dengan seorang warga Swiss. Sungkan terhadap Amerika, yang menolak bernegosiasi dengan teroris, pemerintah-pemerintah negara Eropa tak pernah terbuka soal negosiasi pembebasan warganya yang disandera. Penguasa Qatar yang kaya raya acap "bermurah hati" membayar tebusan demi teman-temannya di Eropa. Entah ada berapa banyak orang yang disandera ISIS.

Washington Post


Tak aneh jika ISIS disebut geng teroris superkaya. Jika riset Thomson Reuters tahun lalu jadi rujukan, ISIS bisa mengantongi US$ 360 juta atau Rp 4,9 triliun setahun dari pajak dan rupa-rupa bisnis "injak kaki" di wilayah yang dia kuasai di Suriah dan Irak. Belum dihitung pendapatan ISIS dari tambang fosfat, sulfur, dan lima perusahaan semen yang mereka kuasai.

Tahu aliran duitnya diawasi, ISIS menaruh sebagian duit di pundi-pundinya dalam "mata uang" cyber, bitcoin. Seorang peretas di Ghost Security Group menuturkan kepada Michael K. Smith dari Kronos Advisory, ada satu akun bitcoin milik ISIS berisi US$ 3 juta atau Rp 41 miliar. Aliran duit bitcoin ini lebih sulit dicegat lantaran tak ditransfer melalui sistem perbankan.

Liputan detik.com


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan