NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Nasional

PKI Tak Boleh Hidup Kembali di NKRI

Rabu, 30 /09/ 2015 13:06:46 29402 Pembaca  

ilustrasi
ilustrasi

Kediri – Aksi unjuk rasa menolak atas bangkitnya gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dilakukan beberapa ormas diantaranya Gabungan Putra-Putri Purnawirawan TNI, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Rabu 30/09/2015, di Taman Makam Pahlawan Kota Kediri, Jawa Timur.

Massa menuding PKI lebih dulu melakukan pelanggaran HAM berat dan memutarbalikkan fakta sejarah. Massa juga mengutuk tindakan pengkhianatan yang dilakukan PKI pada tanggal 30 September 1965. Mereka menyatakan tetap menganggap PKI sebagai musuh negara sampai kapanpun.

“Selamanya PKI tak boleh hidup kembali,” kata koordinator aksi, Imam Mustain, sembari berteriak.

Tidak hanya menggelar orasi, massa juga menyusun kronologi pemberontakan yang dilakukan PKI, mulai dari pembentukan Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) pada tanggal 8 Oktober 1945. Selanjutnya organisasi tersebut mulai melakukan teror kepada pejabat pemerintah, anggota TNI, hingga kiai dan santri.

Puncak pengkhianatan dilakukan pada gerakan PKI jilid dua pada September 1965 dengan menculik dan menyiksa tujuh jenderal hingga tewas. Bahkan penyiksaan yang diakhiri dengan penguburan jasad ke lubang sumur ini dianggap kejahatan kemanusiaan yang luar biasa hingga memicu kemarahan rakyat Indonesia. “Jadi, mereka yang lebih dulu melakukan kejahatan HAM,” ujar Mustain.

Mustain menjelaskan, setelah situasi politik berubah, para tokoh dan simpatisan PKI yang telah keluar dari penjara mulai melakukan propaganda dengan memutarbalikkan fakta sejarah. Dan yang paling menyakitkan, ujarnya, mereka memproklamirkan diri sebagai korban kejahatan HAM dengan menutupi kebiadaban yang terlebih dulu dilakukan PKI.

Fakta-fakta itulah, kata Mustain, yang membuat putra-putri purnawirawan TNI, organisasi massa NU, Muhammadiyah dan LDII khawatir terhadap aksi-aksi yang dilakukan para tokoh dan simpatisan PKI untuk mencuci otak generasi muda.

Kemarahan elemen masyarakat memuncak ketika muncul sinyalemen Presiden Joko Widodo hendak meminta maaf kepada keluarga korban PKI atas peristiwa penumpasan tahun 1965.

Putra-putri purnawirawan TNI, organisasi massa NU, Muhammadiyah dan LDII menolak keras rencana permintaan maaf Presiden Joko Widodo. Bila itu dilakukan oleh presiden, maka bisa melukai perasaan kelompok Islam yang telah berjuang mempertahankan NKRI.

Aksi unjuk rasa bubar setelah massa sempat membakar bendera PKI sebagai simbol perlawanan atas bangkitnya komunisme di Indonesia.

Sumber: TEMPO.CO

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan