NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Fokus

Puluhan Hektar Areal Pertanian Di Kawasan Wilayah Sidondo Raya Hilang Akibat Banjir

Sabtu, 22 /08/ 2015 02:40:13 8797 Pembaca  

Ilustrasi
Ilustrasi

Tidak adanya penataan aliran sungai Palu-Sigi mengakibatkan ratusan hektar areal pertanian hilang akibat banjir.

Bahkan kawasan pemukiman warga juga terancam jika sewaktu-waktu bajir datang lagi. Jika diestimasi, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kerugian yang dialami oleh warga. Setiap kali banjir, tanah beserta tanaman seperti coklat, kelapa, dll habis disapu ganasnya sungai Palu-Sigi.

Menurut Nikson, Kades Sidondo Dua Kec. Biromaru, jika mengacu pada kalender musim, maka kami warga di wilayah Sindo 1, 2, 3 dan 4 atau yang orang sebutkan wilayah Sindondo Raya, akan bersiap-siap menghadapi musim penghujan di akhir tahun. Dua tahun terakhir ini misalnya, wilayah Sidondo Dua tenggelam akibat banjir. Bisa diibaratkan seperti lautan di tengah desa, ujarnya sembari mengenang kisah memilukan itu.

Kalau mau menghitung-hitung kerugian, di wilayah Sidondo Dua ini sudah sepanjang 2 kilometer tanah habis terbawa air. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak tanaman coklat dan kelapa yang habis. Sementara di desa tetangga seperti Sidondo 1 dan 3 juga mengalami nasib yang sama dengan kami, ujar Nikson.

 "Berbagai upaya sudah kami lakukan. Misalnya, swadaya bersama dengan cara gotong royong memasang karung-karung untuk menghabat daya sapu banjir, tapi tidak efektif karena derasnya hantaman air". Bahkan saat ini aliran sungai sudah bercabang-cabang. Sehinggai jika musim hujan, aliran air menjadi liar dan masuk ke kampung-kampung.

Upaya lain yang sudah kami lakukan adalah dengan mendatangi Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi Tengah (BWSS), agar pemerintah bertindak cepat mengatasi situasi ini. Hampir setiap tahun proposal permintaan normalisasi sungai kami ajukan. Baik secara bersama dengan pemerintah desa Sidondo 1, 2 dan 3, maupun inisiatif dari kami di Sindondo dua ini.

Namun sampai hari ini, langkah kongkrit Pemerintah sama sekali belum nampak. Sementara kita sudah akan memasuki musim penghujan diakhir tahun. Padahal saat ini momen yang baik karena mumpung musim kemarau sehingga aliran sungai cukup dangkal. Yang kami minta hanya bagaimana aliran sungai bisa dinormalisasikan saja dulu, supaya aliran sungai jadi satu jalur dikembalikan seperti sebelumnya.

Tidak seperti saat ini, sudah 3 jalur aliran sungai. Kalau jalur air jadi normal maka kami pun akan menjadi tenang. Dan aktifitas pertanian warga juga bisa tumbuh kembali.

Terkait dengan hal tersebut, Muh. Masykur, Anggota Komisi III DPRD Sulteng menegaskan bahwa situasi ini sudah sampai ke tahap emergensi. Tidak cukup lagi setiap kali banjir datang pemerintah daerah hanya datang meninjau lokasi, dan sesudah itu lupa, seolah selesai masalah. Tidak cukup lagi seperti itu karena bisa dikategorikan upaya primitif. Mestinya menghadapi kondisi cuaca ekstrem saat ini, yang saat dibutuhkan adalah langkah kongkrit, tegas Masykur.

Mesti ada desain penataan kawan wilayah sungai. Jangka pendeknya adalah dengan melakukan normalisasi. Sementara jangka panjang merubah kawasan aliran sungai yang liar menjadi kawasan eko wisata. Sudah sepatutnya pemerintah membuat blue print Penataan Kawasan Sungai Palu-Sigi. Selain itu, kami mendesak Kepala BWSS untuk menindaklanjuti desakan warga untuk melakukan normalisasi sungai, termasuk di wilayah Sidondo, tutup Masykur. [Th/SF]

 

Komentar

#HEADLINE

Tiga kabupaten di Sulteng bakal nikmati BBM satu harga
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan